Sabtu, 09 Februari 2013

Parafrase Syair dan Esai



1.      Teks Syair                                                  
                                                        Padi Di Ladang
                                                              Anonim
Bila diri ingin dikenang
Semailah benih di tengah sawah
Bawalah ilmu padi di ladang
Tambah berisi runduk ke bawah

Bila diri ingin terpandang
Jangan berkata tinggi melambung
Jauhi sifat ayam di kandang
Bertelur satu ribut sekampung

Jangan dianggap dirimu pandai
Angkuh sombong menepuk dada
Ingat petuah penyu di pantai
Telur beratus namun tak bangga

Bila diri harum bak mawar
Jangan berkata meninggi diri
Bisa ular tidak kan tawar
Walau memanjat batang berduri

Bisa ular tidak kan tawar
Walau memanjat batang berduri



2.      Parafrase Fisik
Padi Di Ladang
Anonim

(Anakku) Bila diri(mu) ingin dikenang (orang)
 (Pergilah, lalu) semailah benih (padi) di tengah sawah
(Merantaulah, belajarlah, lalu kembali) Bawalah ilmu padi di ladang(mu itu)
(Perhatikanlah bahwa ketika padi )Tambah berisi (semakin) runduk (ia) ke bawah

(Anakku) Bila diri(mu) ingin terpandang (banyak orang)
Jangan (pernah) berkata tinggi melambung (ke udara)
Jauhi(lah) sifat (induk) ayam di kandang(nya)
Bertelur (hanya) satu (tapi) ribut sekampung (memekakkan telinga orang yang mendengarnya)

(Anakkku) Jangan dianggap dirimu (lebih) pandai
(Seperti orang) Angkuh (yang) sombong (dan selalu) menepuk dada
Ingat(lah) petuah (lama, nak bahwa) penyu di pantai (saja)
Telur(nya) beratus (berserakan kian kemari) namun tak (pernah) (mem)bangga(kan diri)

(Anakku) Bila diri(mu) harum (mewangi) bak (bunga) mawar
Jangan(lah) (kau) berkata meninggi diri
(Karena) Bisa ular tidak kan (mampu untuk kau) tawar
Walau (sang ular telah) memanjat batang (yang) berduri

(Karena) Bisa ular tidak kan (mampu untuk kau) tawar
Walau (sang ular telah) memanjat batang (yang) berduri

3.      Penafsiran

ILMU PADI, KERENDAHAN HATI, DAN SIKAP HATI-HATI

Syair Padi Di Ladang adalah nasehat bijak seorang tua kepada generasi muda. Jika ingin di kenang dan berarti untuk banyak orang, maka bermimpilah, tanam dan kembangkanlah benih mimpi itu di tempat yang tepat, merantaulah untuk belajar tentang banyak hal. Namun, ketika impian itu dapat diraih, jangan lupakan ilmu padi di ladang bahwa semakin berisi padi, semakin ia runduk ke bawah, dan semakin mimpimu kau raih, maka kau semakin rendah hati.
Sang Tua juga berpesan. Jika kau ingin dipandang banyak orang, janganlah berkata tinggi melambung ibarat melukis langit. Kau bisa melukisnya, tapi tak bisa melihat apa yang kau lukis. Maka dari itu jangan pernah menyombongkan diri, yang diperlukan hanyalah bukti dari setiap mimpimu, bukan omong kosongmu yang semakin tinggi. Jauhilah sifat induk ayam di kandangnya, bertelur satu tetapi memekakkan telinga orang sekampung. Sebuah impian yang kau raih, jangan sampai membuat orang kesal dengan kesombonganmu.
Jangan pernah menanggap dirimu lebih pandai dari semua orang. Bersifat angkuh dan selalu membanggakan diri. Satu kebaikan yang baru kau lakukan, lalu kau berkata, “Itu semua karena aku”. Ingatlah penyu di pantai, telurnya beratus dan berserakan, tapi tak pernah bangga. Lakukanlah banyak kebaikan, tapi jangan pernah menyebut-nyebutnya. Tunjukkan kerendahan hatimu! Ingatlah bahwa kebaikan yang telah kau lakukan belumlah apa-apa.
Kepada remaja puteri sang tua berpesan. Bila dirimu harum bak kembang mawar dan diincar banyak pemuda. Janganlah berkata meninggi diri, sombong, dan meremehkan orang lain. Jagalah lisanmu. Ingatlah bahwa bisa ular tidakkan tawar, walau memanjat batang berduri. Ingatlah, ketika kau menyakiti hati seorang pemuda dengan lisanmu, ia akan terus mencoba mendapatkanmu dengan cara yang ia mau, yang nantinya akan berbalik menyakiti dan menghancurkanmu.

4.      Apresiasi/Esai

BERMIMPILAH LEBIH TINGGI DARI BINTANG DI KEJAUHAN DAN RENDAHKANLAH HATI LAKSANA MUTIARA DI LAUTAN

Padi Di Ladang
Anonim
Bila diri ingin dikenang
Semailah benih di tengah sawah
Bawalah ilmu padi di ladang
Tambah berisi runduk ke bawah

Bila diri ingin terpandang
Jangan berkata tinggi melambung
Jauhi sifat ayam di kandang
Bertelur satu ribut sekampung

Jangan dianggap dirimu pandai
Angkuh sombong menepuk dada
Ingat petuah penyu di pantai
Telur beratus namun tak bangga

Bila diri harum bak mawar
Jangan berkata meninggi diri
Bisa ular tidak kan tawar
Walau memanjat batang berduri

Bisa ular tidak kan tawar
Walau memanjat batang berduri
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (nasib, keadaan, sejarah) suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya.” (QS. Arra’du: 11).
Jika kau rela terpuruk dalam kebodohan yang sama, yaitu kebodohan yang telah memenjarakanmu bertahun-tahun lamanya. Tidaklah mengapa, kau diam lalu berpangku tangan. Namun, bagimu yang merindukan adanya perubahan, kepadamu yang merindukan cahaya dalam kegelapan, bangkitlah! Dan bangunlah impian serta harapan. Ketika Allah menciptakanmu, tentulah Ia menciptakanmu dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Ia menciptakanmu mata yang mampu melihat indahnya dunia, ia menciptakanmu pendengaran yang mampu mendengar sesuatu yang bermakna, dan tentu saja ia menciptakanmu untuk merevolusi dunia dengan mimpimu, dengan segenap kekuatanmu, dan semua itu pastilah dengan ilmu.
Syair Padi Di Ladang adalah nasehat bijak seorang tua kepada generasi muda. Jika ingin di kenang dan berarti untuk banyak orang, maka bermimpilah, tanam dan kembangkanlah benih mimpi itu di tempat yang tepat, merantaulah untuk belajar tentang banyak hal. Namun, ketika impian itu dapat diraih, jangan lupakan ilmu padi di ladang bahwa semakin berisi padi, semakin ia runduk ke bawah, dan semakin mimpimu kau raih, maka kau semakin rendah hati.
Harapan dan impian adalah dua hal yang memegang peranan penting dalam pengajaran kehidupan manusia. Manusia harus dan pasti memiliki sebuah harapan. Harapan yang mendorong dia pribadi merubah dunianya dan dunia orang lain. Harapan untuk dapat merubah dunia.
Harapan adalah kebutuhan ontologis manusia. Kebutuhan dasariah yang tidak dapat dihilangkan dalam hidup manusia. Harapan yang memungkinkan diri dan hidupnya dapat berjalan menuju sebuah titik kebaikan dan keutuhan hidup. Dengan kata lian, harapan dibutuhkan dan diperlukan sebagai tenaga terdalam untuk sebuah proses perubahan dan pembangunan hidup yang lebih baik.
Proses berharap harus menjadi sebuah proses yang tiada henti mewujudkan atau mengejahwantahkan tujuan harapan itu. Dengan kata lain, harapan perlu diberi bentuk dan diusahakan terwujud dalam hidup.  Tanpa sebuah proses pengusahaan harapan, harapan menjadi sebuah impian kosong yang membuaikan dan memabukan diri. Harapan akan menjadi tong kosong.
Harapan menjadi sesuatu yang penting ketika manusia menghadapi situasi batas. Situasi yang mencekik dan menguritai manusia dalam persoalan, permasalahan, dan penderitaan. Singkatnya, tiada nafas yang mampu ditarik dalam situasi keberadaan titik terendah hidup manusia. Situasi gelap yang mencekam dan menakutkan. Situasi sulit untuk teratasi. Pada titik nadir kehidupan manusia itu, harapan diperlukan. Harapan diperlukan untuk keluar dari situasi batas. Dengan setitik cahaya harapan, pribadi dapat berpikir dan mencari upaya dan usaha bagaimana mendekati dan memutuskan persoalan tanpa sebuah keputusasaan. Harapan yang mengajak dan mengajarkan bahwa ada sesuatu yang menanti di depan sana, masa depan dengan terpecahnya problem itu.
Impian juga merupakan hal penting dalam usaha manusia mewujudkan diri yang otentik sebagai manusia. Impian adalah sifat manusia yang hakiki untuk sungguh menjadi manusia. Tidak ada sebuah perubahan tanpa diawali sebuah impian, dan tiada sebuah impian tanpa sebuah harapan. Impian membuat manusia senantiasa berpikir maju mengatasi situasi konkrit yang membelenggu dan mengikat dirinya.Impian terjadi karena pribadi mempunyai harapan. Maka prosesnya adalah pribadi mempunyai harapan lalu bermimpi, dan akhirnya bertindak untuk mewujudkan impian itu. Panggilan kita dalam dunia ini adalah menjadi pembuka pintu kesempatan dan menumbuhkan harapan serta memperkembangkan impian pribadi yang berada di sekitar kita.
Sang Tua juga berpesan. Jika kau ingin dipandang banyak orang, janganlah berkata tinggi melambung ibarat melukis langit. Kau bisa melukisnya, tapi tak bisa melihat apa yang kau lukis. Maka dari itu jangan pernah menyombongkan diri, yang diperlukan hanyalah bukti dari setiap mimpimu, bukan omong kosongmu yang semakin tinggi. Jauhilah sifat induk ayam di kandangnya, bertelur satu tetapi memekakkan telinga orang sekampung. Sebuah impian yang kau raih, jangan sampai membuat orang kesal dengan kesombonganmu.
Setiap manusia mempunyai karakter, sifat dan kepribadian yang berbeda. Meski anak yang lahir kembar identik pun pasti memiliki sifat dan karakter yang tidak sama. Untuk itu Islam mengatur tata cara bergaul yang benar, agar seseorang dapat bersinergi dengan orang lain meski mempunyai kepribadian , sikap dan watak yang berbeda. Allah berfirman,” Dan hamba-hamba Tuhan yang maha penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqon: 63)
Rendah hati (tawadhu) dan mengucapkan kata-kata yang baik (Qaulan Salaamah). Rendah hati adalah sifat yang sangat mulia, orang yang tawadhu akan tercermin dari sifat dan tingkah lakunya. Dalam pergaulan orang yang tawadhu pasti disenangi, bila berkata sewajarnya, kepada yang lebih tua menghormati, namun kepada yang lebih muda menyayangi. Orang seperti ini bila ditakdirkan jadi pemimpin, ia akan tampil sebagai pemimpin yang amanah.
Jangan pernah menanggap dirimu lebih pandai dari semua orang. Bersifat angkuh dan selalu membanggakan diri. Satu kebaikan yang baru kau lakukan, lalu kau berkata, “Itu semua karena aku”. Ingatlah penyu di pantai, telurnya beratus dan berserakan, tapi tak pernah bangga. Lakukanlah banyak kebaikan, tapi jangan pernah menyebut-nyebutnya. Tunjukkan kerendahan hatimu! Ingatlah bahwa kebaikan yang telah kau lakukan belumlah apa-apa.
Keinginan dihormati adalah normal, keinginan dihargai adalah normal, keinginan dimuliakan juga normal, namun menjadi tidak normal jika kita diperbudak oleh keinginan dihormati, keinginan dipuji dengan perbuatan ria dan lebih buruk lagi keinginan itu membuat kita menjadi sombong, merasa lebih mendustakan kebenaran. Padahal ada jalan untuk menjadi mulia dan jalan inilah yang harus kita tempuh.

Rasulullah saw bersabda :
“Man tawādho’a rafa’allahu, waman takabbarā wdhawa’allahu”
Barang siapa yang rendah diri/ hati, maka Allah akan memuliakannya
Dan barang siapa yang sombong/besar diri, maka Allah akan menghinakannya .

Ahli Hikam berkata:
“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam , maka tidak sempurna hasil buahnya”
Pohon yang akarnya menghujam ketanah akan kokoh, ditiup angin, dihempas topan, diterjang badai tetap kokoh. Tetapi, pohon yang akarnya tidak menyentuh/menghujam ketanah disiram air akan goyah, dihempas angin rusak, diterjang badai hancur. Apalah artinya.
Kalau ingin menjadi pribadi yang kokoh, maka kuncinya tanamlah diri ini di bumi kerendahan hati, bukan rendah diri.. tapi rendah hati.
Hujamkan.  Makin rendah hati makin dimuliakan, makin tinggi hati makin dihinakan.
Oleh karena itu, jalan menuju kemuliaan, jalan menuju orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah, kuncinya adalah menjadi orang-orang yang tawadhu, orang-orang yang rendah hati. Kesombongan, ketakaburan adalah jalan paling pintas yang menghinakan diri kita, kerendahan hati itulah jalan yang utama yang membuat kita akan mulia dunia dan insya Allah akhirat kelak.

Jadi, kelebihan yang membuat sombong itu menjadi sebuah kekurangan besar. Kita diberikan kelebihan rezeki kemudian kita menjadi takabur itu juga menjadi kekurangan. Kita dinaikan kedudukan oleh Allah lantas menjadi petangtang-petengteng  juga menjadi kekurangan. Makanya, setiap kenaikan sesuatu ilmu, kedudukan, penampilan, jabatan atau ibadah selalulah berjuang untuk tawadhu. Karena peluang itu ada, maka jika tawadhu tidak dilatih, ketika jatuh kita menjadi hina. 

Kepada remaja puteri sang tua berpesan. Bila dirimu harum bak kembang mawar dan diincar banyak pemuda. Janganlah berkata meninggi diri, sombong, dan meremehkan orang lain. Jagalah lisanmu. Ingatlah bahwa bisa ular tidakkan tawar, walau memanjat batang berduri. Ingatlah, ketika kau menyakiti hati seorang pemuda dengan lisanmu, ia akan terus mencoba mendapatkanmu dengan cara yang ia mau, yang nantinya akan berbalik menyakiti dan menghancurkanmu.
Mulut merupakan anggota tubuh yang terletak di bagian wajah. Posisinya yang strategis membuatnya cukup jadi perhatian. Tak jarang kita temui orang yang gemar “menghias“ mulutnya dengan berbagai macam cara, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Semua itu dilakukan bertujuan agar dia lebih percaya diri untuk tampil di hadapan publik.           Tetapi, yang lebih penting dari itu adalah keberadaan mulut sebagai penentu baik dan buruk seseorang, sekaligus konsekuensinya, yaitu bahagia atau sengsara. Banyak pepatah Arab soal pernyataan ini, seperti : celakanya seseorang itu bukan karena terpelesetnya kaki, melainkan karena terpelesetnya mulut, selamatnya seseorang itu karena penjagaan terhadap lisannya, dan lain-lain. Ini karena mulut merupakan media yang sangat efektif bagi seseorang untuk mengungkapkan kata hatinya.
                      Melihat pada peran penting mulut itu, hingga ada yang menyatakan segala perkataan yang keluar darinya merupakan representasi dari kepribadian seseorang. Hal ini memang cukup pelik, mengingat belum dapat dipastikan, misalnya orang tutur katanya terdengar baik dan lembut belum pasti ia memiliki karakter seperti itu, karena bisa jadi hal itu dilakukan karena ada maksud-maksud terselubung. Untuk itu, mulut sangat erat dengan hati, dan disini, orang tidak bisa main-main lagi karena siapapun tidak akan bisa membohongi diri sendiri. Hati yang tulus akan melahirkan perkataan yang menentramkan bagi orang yang mendengarnya.
Ada satu kisah tentang seorang yang mampu menjaga mulutnya untuk tetap berada pada jalur kebaikan dan kebenaran, yang kemudian namanya diabadikan Allah dalam Al-Qur’an sebagai salah satu teladan bagi umat manusia, yaitu Lukman Hakim. Dia seorang budak hitam ( wahsyi ), yang memiliki bibir tebal dan dua kaki melekuk. Dapat dibayangkan, secara fisik jelas bukan tergolong orang yang tampan. Tetapi, dari bibirnya yang tampak kurang sedap dipandang mata itu, justru tercermin kelebihannya dibandingkan orang lain, yaitu dia selalu tidak mengeluarkan suatupun dari mulutnya selain hal-hal yang mulia, penuh makna dan hikmah, serta berguna.
            Suatu hari, diperintahkan tuannya menyembelih beberapa ekor kambing karena ada suatu tujuan tertentu. Setelah kambing-kambing itu disembelih, ia disuruh mengambilkan dua bagian yang terbaik dari daging kambing tersebut. Beberapa saat kemudian, dia menghadap tuannya dengan membawa potongan hati dan lidah.
            Setelah tuannya memastikan kedua potong daging itu telah berada di tangannya, dia kembali menyuruh Lukman mengambilkan dua potong daging lagi, tetapi kali ini dari bagian yang terburuk. Tak lama kemudian, dia kembali menghadap tuannya dengan membawa potongan hati dan lidah.
            Sudah tentu ulah Lukman ini terasa ganjil di mata tuannya, yaitu daging yang terbaik dan yang terburuk sama bentuknya. Ia lantas minta Lukman menjelaskan keganjilan perbuatannya itu. Lukman kemudian menguraikan, “ Bila kedua bagian ini sudah baik, tidak ada lagi yang lebih baik dari keduanya. Sebaliknya, bila kedua bagian ini buruk, tidak ada lagi yang lebih buruk dibandingkan dengan keduanya.”
            Kisah ini telah memberikan satu gambaran yang sangat jelas bahwa kedua bagian fisik manusia yang memiliki peran penting dalam mencitrakan baik atau buruk adalah hati dan mulut. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan, karena masing-masing bergantung pada yang lain. Untuk itu, keduanya harus dijaga secara bersamaan, Sebab, jika yang satu menyimpang, maka yang lain akan mengikutinya.
            Nabi sering mengingatkan untuk serius dalam menjaga mulut. Pada satu kesempatan, ia menyatakan berkaitan dengan sikap yang semestinya dilakukan seorang mukmin. Menurut beliau, seorang yang telah menyatakan diri beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaknya hanya berbicara yang baik-baik, dan kalau ia tidak sanggup untuk itu, sebaiknya diam saja.
            Pada kesempatan yang lain, Nabi juga menegaskan akibat bagi orang yang tidak mampu menjaga mulutnya adalah menjadi penghuni Neraka. Penegasan Nabi ini membuktikan adanya kaitan yang erat antara perkataan dan keimanan. Perkataan yang baik jelas mencerminkan iman yang tebal. Sebaliknya, dengan iman yang kuat, seseorang tak akan membiarkan mulutnya untuk berkata-kata kotor, karena iman akan menyelamatkan seseorang, maka mulut juga akan menyelamatkannya. Begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, menjaga mulut berarti juga menjaga keimanan, dan karena iman itu merupakan suatu keyakinan dalam hati, maka hati juga harus diperhatikan.
Nabi mengingatkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang bila ia baik, maka seluruh kediriannya akan baik, dan bila ia rusak, maka seluruh kediriannya akan rusak, yaitu hati. Sebagai tempat iman, hati memang harus dijaga secara ekstra. Sebab, jika ia busuk dan kotor, jelas iman semakin menghindarinya. Ketika iman sudah semakin jauh, mulut akan semakin tak terkendali. Pada saat itulah, kehancuran orang mulai menghampirinya. 

Maka dari itu wahai generasi muda, bermimpilah lebih tinggi dari bintang di kejauhan dan rendahkanlah hati laksana mutiara di lautan. Jagalah lisanmu, niscaya engkau telah menjaga iman dan semua perjuanganmu.

REFERENSI
Al-Quran dan Terjemahannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar